Senin, 27 April 2026 WIB

Tading boru Sirait Mampu Tenun Ulos Motif Langka

- Sabtu, 25 Januari 2020 14:00 WIB
Tading boru Sirait Mampu Tenun Ulos Motif Langka
mtc/pintor
Tading boru Sirait (65) warga Desa Silamosik Kecamatan Porsea mampu menenun berbagai macam ulos. Ulos yang ditenun sang nenek merupakan ulos yang jarang ditemui di pasaran karena tergolong langka. Langkanya ulos ini karena di kehidupan orang Batak termasu
MATATELINGA, Tobasa: Tading boru Sirait (65) warga Desa Silamosik II Kecamatan Bonatua mampu menenun berbagai macam ulos. Ulos yang ditenun sang nenek merupakan ulos yang jarang ditemui di pasaran karena tergolong langka. Langkanya ulos ini karena di kehidupan orang Batak termasuk dalam melakukan acara adat Batak, ulos ini tidak begitu banyak dipergunakan dan harganya tergolong mahal berkisar Rp 2,5 juta per buah. 

Beberapa jenis ulos yang bisa dibuat sang nenek diantaranya ulos Marjatsisi (Raja Ni Ulos),  ulos Ragi Hotang, ulos Tuturtutur, ulos Mangiring, ulos Bintang Maratur, ulos Bintang Maratur Handehande. ulos Sibolang, ulos Hattak-hattak,  ulos Pucca Suri-Suri, ulos Padang-Padang, ulos Pinallobuan dan ulos Sirara. Namun diluar ini masih banyak lagi yang belum disebutkan dan semua bisa ditenun hanya dengan melihat contoh motifnya.





Proses pembuatannya juga tergolong unik. Mulai dari Manggunggas, Manghulhul, Mangani,  Martonun dan Manirat. 

Manggunggas yaitu proses penambahan nasi yang dihancurkan dan diusapkan ke benang pakai brus agar menempel rata lalu benangnya dijemur dibawah terik matahari. Setelah benang sudah kering, lalu masuk ke proses Manghulhul yaitu menggulung benang ke sebuah benda bulat dalam hal ini mempergunakan kaleng cat.

Sementara proses Mangani ialah menjadikan benang dasar untuk bertenun. Proses ini cukup rumit karena penenun harus menghitung banyaknya benang yang diperlukan terkait dengan panjang dan lebar ulos agar tidak kurang jika sudah jadi ulos nantinya.




Proses Martonun ialah menjadikan benang tersebut agar menjadi ulos dengan menambahkan beberapa benang lain untuk pembuatan motif ulos. Setelah selesai jadi ulos, hal terakhir yang dilakukan ialah Manirat. Manirat adalah proses merapikan ujung kedua ulos dengan cara memelintir ujung benang bekas potongan setelah selesai ditenun. Saat Manirat ini juga bisa ditambahkan beberapa motif agar menarik.

Sejak masih gadis, beliau sudah mampu membuat ulos mulai proses pemilihan benang hingga menenun ulos dengan cara manual. Lamanya pengerjaan sebuah ulos tergantung dari motif ulos tersebut.

“Saya sudah bisa menenun sejak anak gadis. Semua dilakukan dengan cara manual atau tanpa mesin” ungkap beliau disela-sela kunjungan Ketua Dewan Dekranasda Ny. Brenda Rita Wati Darwin Siagian pada Sabtu, 24/1/2020 di Silamosik Kecamatan Porsea.





Tading boru Sirait yang merupakan salah satu anggota kelompok penenun yang berada di Silamosik merupakan salah satu binaan dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kabupaten Toba Samosir yang diketuai oleh Ny. Brenda Rita Wati Darwin Siagian. 

Hingga sekarang, sang penenun ulos ini mampu membuat ulos sesuai pesanan hanya dengan melihat motif ulos yang dibawa pemesan barang. Bagi yang berminat, silahkan datang langsung untuk memesannya.
(Mtc/Pin)
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru