Rabu, 26 Agustus 2026 WIB

Dolok Panjaitan : Gubsu Seharusnya Pikirkan Masalah Infrastruktur di Kawasan Danau Toba

- Selasa, 03 September 2019 14:50 WIB
Dolok Panjaitan : Gubsu Seharusnya Pikirkan Masalah Infrastruktur di Kawasan Danau Toba
Mtc/ist
Dolok M Panjaitan
MATATELINGA, Tobasa: Lagi-lagi masalah wisata halal yang direncanakan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menjadi viral di media sosial. Sebagian warga menyambut positif dan kebanyakan warga menolak rencana tersebut.




[adx]

Seperti halnya anggota DPRD Tobasa Sabaruddin Tambunan yang dalam postingannya mengatakan tujuan Perda Pariwisata  untuk penempatan dan penataan fasilitas baik hotel, restoran yang berlabel halal sebagai jaminan buat turis  dengan tidak menghilangkan budaya lokal dan makanan lokal.

Namun Dolok M Panjaitan ,orang Batak yang tinggal di Papua berpendapat lain.  Dolok menggambarkan sebagaimana didefinisikan oleh organisasi turis dunia UNWTO (Reff. http://www2.unwto.org/content/about-us-5), system keparawisataan seharusnya menghormati keaslian sosial-budaya masyarakat setempat.

Melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional yang dibangun dan hidup, serta berkontribusi pada pemahaman dan toleransi antar budaya. 

"Konsep wisata itu justru harusnya menyediakan kekhasan, keunikan, sehingga wisatawan memiliki pengalaman baru dan menyenangkan. Janganlah membuat pemisahan sehingga merusak kearifan budaya dan menimbulkan perpecahan" pesan beliau melalui email.



[adx]

Jadi menurut dia , konsep yang dicanangkan oleh gubernur Edy Rahmayadi ini adalah jelas buang-buang waktu dan juga malah mengadakan dikotomi atau pemisahan dalam masyarakat dan melanggar konsep Bhinneka Tunggal Ika.

"Jadi jangan hanya bertahan dengan kedangkalan pikiran yang hanya melihat wisatawan itu hanya berasal dari Malaysia dan Brunei saja" ungkapnya bernada keras. Beliau juga memberikan data kunjungan wisata ke Bali". Berdasarkan website badan pusat statistic provinsi Bali tahun 2017, negara-negara berikut sebagai penyumbang wisatawan kita adalah

1. China(1.356.412);

2.Australia(1.062.039);

3.India(264.516);

4.Jepang(249.399);

5.Inggris(240.633);

6.Amerika-Serikat(189.814);

7.Perancis(176.710);

8.Jerman(176.470);

9.Korea Selatan(161.765).

Sedangkan negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura  dengan jumlah 165.396 jiwa dan 124.779 jiwa berturut-turut. Bahkan negara eropa lainnya bisa mencapai 885.551 jiwa. Negara Brunei seperti yang diberitakan sebelumnya bahkan tidak terlihat ataukah warga disana tidak tertarik dengan keparawisataan. Thailand sendiri kita ketahui negara tersebut cukup fantastis dalam menarik wisatawan mancanegara.



[adx]

Dolok berpendapat jika alasan dengan wacana wisata halal untuk menarik atau meningkatkan jumlah wisatawan adalah wacana sia-sia yang tidak berdasar seperti pemikiran kaum pendukung wisata halal. Konsep halal dan haram yang bertujuan untuk menarik wisatawan mancanegara yang diprediksi Edy berasal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei adalah tidak beralasan sama sekali dan malah mengganggu apa yang sudah ada dalam masyarakat setempat.

"Sering kita dengar bahwa adanya keunikan tersendiri mengapa daerah/negara Eropa, China, Korea Selatan punya daya tarik bagi kita yaitu keunikan dari pemandangan alamnya, yang ini tidak kalah menarik dari kawasan Danau Toba seperti keindahan danau, pegunungan dan suasana alamnya" bebernya.

Gubernur Edy diminta agar fokus memfasilitasi kekurangan yang ada untuk menunjang parawisata Danau Toba seperti minimnya atau program pembangunan infrastruktur. Juga soal masih adanya pencemaran Danau Toba yang bisa menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung.

Bali yang sangat ramai dikunjungi oleh Turis/pelancong baik dalam negeri maupun luar negeri bukanlah jadi alasan untuk menarik turis dalam negeri yaitu dengan menerapkan konsep Wisata halal di daerah Danau Toba.

Kalaupun ada sumber yang menyatakan belajar dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca penerapan Wisata Halal di kawasan itu ternyata mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD), hal demikian ini adalah ide yang sangat tidak tepat. Karena di NTB tidak ada benturan antara budaya dengan program yang dicanangkan dan daerah NTB sendiri merupakan daerah mayoritas muslim sehingga mungkin tidak ada permasalahan.

Akankah wacana wisata halal ini akan terwujud dengan tidak menghilangkan kearifan lokal?
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru