Rabu, 29 April 2026 WIB

Stanley JM Anak Medan yang Ingin jadi Dokter Hewan dan Diterima di Kampus NZ

- Selasa, 04 Juni 2019 13:50 WIB
Stanley JM Anak Medan yang Ingin jadi Dokter Hewan dan Diterima di Kampus NZ
MATA TELINGA/JAMES P PARDEDE
Stanley Joshua Makmur, Anak Medan yang lolos kuliah fakultas kedokteran hewan di Selandia Baru
MATATELINGA, Medan : Kecintaannya pada dunia fauna, terutama jenis fauna endemik dan fauna dilindungi yang keberadaannya sudah semakin punah membuat Stanley Joshua Makmur memantapkan diri untuk memilih melanjutkan studinya ke fakultas kedokteran hewan di luar negeri. Putra pertama pasangan Sugianto Makmur dan Juliana Henny ini pada awalnya berkeinginan menjadi seorang dokter, tapi karena kecintaannya pada fauna membuatnya beralih pilihan.



"Alasan saya memilih kedokteran hewan, karena saya menemukan bahwa kedokteran hewan itu unik dan menantang untuk dipelajari. Awalnya, saya ingin menjadi dokter umum dan melanjutkan menjadi dokter spesialis. Namun, setelah saya melihat channelnya Nat Geo Wild pada channelnya dr.Pol, dr. Yukon Vet, dan Exotic Vet. Saya menjadi terkesan bagaimana mereka bisa berkomunikasi dengan baik dengan hewan-hewan tersebut, terutama hewan-hewan exotic," demikian pengakuan Stanley yang membuatnya jatuh cinta dengan bidang ilmu yang berhubungan dengan dunia fauna.



Karena ketertarikannya dengan bidan ilmu kedokteran hewan, Stanley mulai melakukan pencarian kampus dan memberanikan diri untuk mendaftar ke Massey University, Palmerstone North, New Zealand. Dengan nilai Ujian Nasional yang tinggi dan hasil ujian sekolah yang bagus, Stanley diterima di Massey University. Stanley memilih kampus Massey University di Selandia Baru karena tempatnya yang kaya akan hewan-hewan endemik yang unik dan fasilitas pendukung lainnya juga lengkap.

"Hewan-hewan endemik yang unik ini menarik perhatian saya dan alasan lainnya berasal dari kedua orang tua saya yang memberi dukungan penuh untuk saya bisa kuliah di kampus yang sudah terkenal dengan kualitasnya," tandas Stanley.

Lepasliarkan Burung Rangkong dan Buaya ke Hutan Bakau Kun Kun


Stanley Joshua Makmur

Kecintaannya kepada dunia fauna semakin melekat ketika dalam sebuah kesempatan Stanley mendapat kiriman anak burung Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostri) yang kerap juga disebut dengan burung rangkong. Selama 6 bulan lebih, Stanley memelihara burung rangkong tersebut dengan penuh kasih sayang.

Tepat pada liburan sekolah dua tahun lalu, Stanley ditemani ayahnya Sugianto Makmur berangkat ke Natal, tepatnya ke kawasan hutan bakau desa Kun Kun, Kecamatan Batang Natal. Burung kangkareng perut putih dibawa serta untuk dilepasliarkan kembali ke habitat asalnya.



Mei 2019 lalu, Stanley ditemani sang ayah kembali mengunjungi hutan bakau Kun Kun di kawasan Pantai Barat Mandailing Natal. Hutan bakau seluas 100 hektar yang dibeli Sugianto Makmur beberapa tahun lalu sudah tumbuh kembali dan pertumbuhannya merata.

Upaya konkrit yang dilakukan Sugianto dalam menyelamatkan hutan bakau telah dibuktikan dengan melakukan konservasi mandiri hutan bakau di Kun Kun, Natal, Mandailing Natal. Sekitar 100 hektar lahan yang diganti rugikan milik masyarakat dalam kondisi rusak, tidak ada lagi pohonnya, pada tahun 2009.


Burung Kangkareng Perut Putih

Perlahan dan pasti, hutan mulai pulih kembali. Sekarang, hutan ini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Kunkun, sebagai tempat mereka menangkap kepiting, udang dan ikan. Saat berada di Desa Kun Kun, Stanley juga memiliki kesempatan untuk melepasliarkan kembali dua ekor buaya yang terjaring dalam bubu nelayan.

"Masyarakat Kun Kun sudah terbiasa dengan keberadaan buaya yang hidup bebas di kawasan hutan bakau dan sungai Kun Kun. Masalah yang kemudian muncul adalah ada segelintir orang yang mengganggu keberadaan buaya dan akhirnya menjadi korban," kata Sugianto Makmur.

Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru