MATATELINGA, Langkat: Hutan bakau di Sumatera Utara banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit dan peruntukan lainnya. Berdasarkan data yang dilansir dari Dinas Kehutanan Sumut, bahwa hutan mangrove di Sumut sekitar 100.000 hektar sebagian besar sudah mengalami gangguan hingga harus dipulihkan.
Sugianto Makmur
Itu sebabnya perlu upaya ekstra untuk mengembalikan fungsi hutan bakau (mangrove) ke fungsi awalnya sebagai bagian dari paru-paru dunia. Dari 100.000 hektar hutan mangrove, 40-50% sudah beralih fungsi, 20% alami gangguan, sisanya, masih utuh. Menyikapi alih fungsi hutan bakau menjadi kebun kelapa sawit, Calon Legialatif dari PDI Perjuangan Dapil 12 (Binjai-Langkat) Nomor Urut 8 Sugianto Makmur, Rabu (20/3/2019) menyampaikan keprihatinannya terhadap kerusakan ratusan hektar hutan bakau di Sumatera Utara, termasuk di Kabupaten Langkat dan daerah lainnya yang memiliki hutan bakau yang luas.
Upaya konkrit yang dilakukan Sugianto dalam menyelamatkan hutan bakau telah dibuktikan dengan melakukan konservasi mandiri hutan bakau di Kun Kun, Natal, Mandailing Natal.
"Ada sekitar 100 hektar lahan yang kami ganti rugikan milik masyarakat. Hutan ini sudah rusak, tidak ada lagi pohonnya, pada tahun 2009. Perlahan dan pasti, hutan mulai pulih kembali. Sekarang, hutan ini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Kun kun, sebagai tempat mereka menangkap kepiting, udang dan ikan," kata Sugianto.
Dengan kondisi hutan bakau di Kun Kun yang sudah pulih, Sugianto hanya meminta kepada masyarakat untuk tidak menangkap ikan atau kepiting yang terlalu kecil serta tidak menembak burung yang tinggal di hutan bakau, terutama burung langka yang masuk dalam daftar dilindungi.
Sepanjang perjalanan mengembalikan fungsi hutan bakau yang rusak di Kun Kun, Mandailing Natal, menurut ayah 4 anak ini, ada beberapa kali tawaran untuk membeli lahan yang sudah dikonservasi untuk dijadikan kebun sawit.
"Tawaran seperti itu saya tolak mentah-mentah. Karena, ada kepuasan batin yang besar dalam merawat hutan bakau ini. Hampir semua muara sungai di sana sudah berubah menjadi lahan sawit. Seberang kita adalah hutan alami, sedangkan kita adalah hutan yang baru berusia 9 tahun, tinggi dan besarnya seragam, karena tumbuh bersamaan," tandas Sugianto.
Hutan bakau jika dikelola dengan baik akan memberi dampak positif bagi masyarakat disekitarnya. Beberapa jenis hewan laut banyak menghuni hutan mangrove seperti ikan, ubur-ubur, udang, kepiting, siput, dan hewan lainnya termasuk buaya. Karena biasanya hewan laut menggunakan hutan mangrove sebagai tempat perlindungan dari predator terutama bagi hewan laut yang sedang beranjak dewasa. Hewan laut juga memanfaatkan hutan mangrove untuk mendukung proses pemijahan dan juga menjadikan hutan mangrove sebagai nursery ground (tanah pembibitan) untuk membantu membesarkan anak-anak mereka.
"Ada banyak manfaat yang kita rasakan dari hutan mangrove. Tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan hewan laut, tapi juga dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan ekosistem pesisir. Dari sisi ekonomi, para nelayan dan pernduduk sekitar mangrove dapat memanfaatkannya sebagai kebutuhan konsumsi atau kebutuhan lainnya. Itu sebabnya, perlu ada upaya secara berkesinambungan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak merusak hutan mangrove yang memiliki banyak fungsi," tegasnya.