MATATELINGA, Tobasa: Dikabarkan, peti mati DR Sutan Raja DL. Sitorus rupanya sudah dipesan beliau sejak tiga tahun lalu. Hal ini dikatakan sahabat dekat beliau Nasser Sirait asal Ajibata. Beliau mengatakan jika peti mati tersebut sudah dipesan jauh hari. "Tiga tahun lalu sudah dipesan beliau" ungkapnya. Sebelumnya, peti mati dengan model yang sama juga digunakan ibunda Almarhum Op. Sabar yang meninggal beberapa tahun yang lalu.
Bagian Panjaitan merupakan orang yang membuat gorga (corak) bagi ruma adat batak, kuburan, dan peti mati. Bagian sudah menjadi langganan tetap almarhum DR. Sutan Raja DL. Sitorus. Bagian Panjaitan asal Sitorang Kecamatan Silaen ini dipercaya untuk membuat peti mati tersebut.
Bahan untuk membuat peti mati ini berasal dari pohon Nangka. Untuk mencari pohon ini begitu sulit hingga ditemukan di Sipahutar Tapanuli Utara. Memang peti mati ini terbuat dari pohon nangka yang diperkirakan sudah berumur 250 tahun dengan diameter sekitar 2,5 meter.
Menurut Bagian Panjaitan, proses untuk mengerjakan ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk satu buah peti lengkap dengan corak gorga nya (sejenis ukiran-red). Sedangkan harga pembuatan satu buah peti ini menelan biaya Rp. 200.000.000.-
Menurut Nasser Sirait, setelah peti mati tersebut selesai dikerjakan, alm DR. Sutan Raja DL. Sitorus memesan agar peti jenazah tersebut disimpan di Lampung. "Simpan di Lampung saja agar bisa dekat dengan Jakarta dan Sumatra. Siapa tahu saya meninggal di Jakarta atau Medan. Mengambilnya kan jadi dekat" ungkap beliau kepada tuan Nasser.
Perkiraan berat peti jenazah tersebut mencapai 500 kg. Dibutuhkan 15 orang untuk mengangkat peti tersebut kedalam ruma parsaktian. Dibutuhkan kehati-hatian agar tidak sampai melukai atau menimpa mereka. (Mtc/ Pintor)