Selasa, 28 April 2026 WIB

Padi dan Pinus Lebih Boros Air dari Eucaliptus

- Selasa, 29 Juni 2021 15:30 WIB
Padi dan Pinus Lebih Boros Air dari Eucaliptus
mtc/ist
Banyak orang beranggapan jika pohon eucalyptus merupakan salah satu tanaman yang paling boros air di Kabupaten Toba. Namun ternyata, padi, akasia dan pinus lebih boros dari eucalyptus yang sering dit
MATATELINGA, Toba: Banyak orang beranggapan jika pohon eucalyptus merupakan salah satu tanaman yang paling boros air di Kabupaten Toba. Namun ternyata, padi, akasia dan pinus lebih boros dari eucalyptus yang sering dituduhkan banyak orang.

M. Sianipar pada Selasa 29/6/21, menjelaskan secara detail jenis-jenis tanaman rakus air tersebut. Dia merupakan lulusan Management Hutan IPB (Institut Pertanian Bogor) tahun 1990 dan pernah bekerja sebagai Konsultan Pengelola Hutan Lestari dan sebagai Manager di PT. Diamon Raya Timber (pengusahaan hutan). PT. Diamon Raya Timber merupakan perusahaan yang pertama sekali mendapatkan sertifikat Hutan Lestari FSC (Forest Stewarship Council) di Indonesia.

M. Sianipar menjelas bahwa eucalyptus merupakan tanaman yang butuh sedikit air dan sangat banyak menyerap karbondioksida serta menghasilkan oksigen tinggi. Hal itu harus dilihat dari ilmu hydroligi Evapotranspirasi . Evapotranspirasi adalah gabungan evaporasi dan transpirasi tumbuhan yang hidup di permukaan bumi. Air yang diuapkan oleh tanaman dilepas ke atmosfer. Evaporasi merupakan pergerakan air ke udara dari berbagai sumber seperti tanah, atap, dan badan air. Transpirasi merupakan pergerakan air di dalam tumbuhan yang hilang melalui stomata akibat diuapkan oleh daun. Evapotranspirasi adalah bagian terpenting dalam siklus air.


“Stomata eucalyptus lebih sedikit dibandingkan pinus. Eucalyptus 52 lobang mm2 dan pinus 67 mm2 yang mengakibatkan penguapan yang lebih tinggi. Profil daunnya juga sedikit dibandingkan pinus. Eucalyptus hanya memiliki daun diatasnya dan memangkas tangkai sendiri” terang M. Sianipar.

Sumatera pada khususnya Toba, sangat bagus untuk menanam eucalyptus karena berada di garis katulistiwa yang selalu tersedia hujan dan sinar matahari sepanjang tahun. Hal ini membuat tanaman eucalyptus bisa tumbuh dan dipanen dalam waktu 5 tahun di Indonesia.

Berbeda dengan negara Eropa yang membutuhkan waktu 15-20 tahun karena matahari dan salju mempengaruhi pertumbuhan eucalyptus. Patut diduga terjadi persaingan bisnis dunia antara pasar Eropa dan Indonesia khususnya.


Menurut M. Sianipar, sebelumnya para ahli telah melakukan penelitian tanaman yang cocok di Toba oleh kementerian kehutanan dan memutuskan Eucalyptus jauh lebih aman dan menguntungan. Penelitian terkait dengan jumlah curah hujan per tahun, sinar matahari dan pergantian iklim.

PT. TPL salah satu perusahaan yang masih menggunakan eucalyptus sebagai bahan kertas, memiliki luas lahan di Kabupaten Toba sebanyak 4.754 hektar saja dari total ijin yang mereka dapat seluas 167.912 hektar. Akankah masyarakat tetap beranggapan bahwa eucalyptus boros air?

(Mtc/Yin)

Editor
:
SHARE:
 
Tags
tpl
 
Komentar
 
Berita Terbaru