Opini

RAMADHAN SEBAGAI MADRASAH PENDIDIKAN

Faeza
Mtc/ist
Syafrudin Hanafi Siregar/ Dosen FEBI UINSU/Alumni HMI FSH-FEBI UINSU

MATATELINGA : Ibadah puasa Ramadhan merupakan sarana tarbiyah untuk membina, melatih, atau membentuk kepribadian manusia, agar menjadi pribadi unggul yang bertaqwa kepada Allah. Pendidikan dalam pengertian yang komprehensif-integratif. Begitu banyak materi tarbiyah yang akan tersaji di bulan Ramadan ini. Materi-materi tarbiyah yang akan membentuk karakter ilmiah dan islamiyah bagi seorang muslim,

Ramadhan termasuk sayyidus suhur yang memiliki banyak keistimewaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Bagi umat Islam bulan Ramadhan merupakan bulan pendidikan dan latihan yaitu memiliki makna bimbingan, pembiasaan perilaku, pembudayaan nilai, dalam rangka tumbuhnya karakter-karakter positif, tumbuhnya akhlakul karimah, lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, dan transformatif.

Sudah barang tentu, pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang sesuai dengan arahan dari Sang Pencipta Allah SWT, dan Rasulullah Muhammad SAW.


Secara umum ada empat kecerdasan yang dididik, dibimbing, dibina, dan dilatihkan melalui puasa Ramadhan ini :

Pertama, kecerdasan intelektual ; Melakukan kegiatan atau mendengar ceramah, kajian-kajian tentang ilmu agama, training (pelatihan) guna meningkatkan khazanah pengetahuan Islam yang semua ini merupakan satu aspek pembentukan kecerdasan intelektual.

Kedua, kecerdasan emosional ; Momentum istimewa untuk mengembangkan kesadaran hati sebagai kesadaran tertinggi, seperti halnya menahan amarah, mengurangi fitnah, tidak munafik, dengki, khianat, iri hati, sombong, angkuh, dan begitu banyak sikap lain yang dilatih untuk membentuk kecerdasan

Ketiga, kecerdasan sosial ; Memiliki kepekaan (sense of responsibility) dan tanggung jawab sosial. Memiliki sikap empati pada sesama, merasakan penderitaan orang lain, berbuat dan bermanfaat untuk orang lain, orang yang toleran, sebagai sikap kesalehan social dan mendorong kita memberikan infak, sedekah, dan menunaikan zakat, baik zakat mal maupun zakat fitrah. Itu semua menuntun agar terbentuk kecerdasan sosial pada pribadi kita sebagai hamba Allah yang taat dan beriman.

Keempat, kecerdasan spiritual ; Dalam ibadah puasa melatih kita untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga mempunyai perasaan keterikatan dengan Allah SWT dan dengan diri sendiri. Melatih sikap spiritualisme dan moral-akhlak. Menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr). Selain itu juga meningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari, dalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma-norma agama, aturan negara, maupun norma-norma di masyarakat. Karena itu, ramadhan menjadi sarana untuk mendidik, melatih, membimbingdan penanaman nilai-nilai karakter.

Oleh karena itu, ibadah Ramadhan yang kita laksanakan harus dipahami sebagai suatu rangkaian ibadah untuk meningkatkan empat aspek kecerdasan manusia yang tujuannya adalah untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, yang merupakan tujuan utama umat Islam berpuasa.

Ramadhan benar-benar menjadi madrasah bagi seseorang dalam menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ketika seseorang sadar bahwa Ramadan adalah waktu yang terbatas maka ia akan disiplin dalam waktunya dan menjadikannya maksimal dalam penggunaan.

Senantiasa mengisi waktu dengan melakukan amal kebajikan seperti salat tepat pada waktunya untuk mendapatkan pahala yang lebih besar, zikir sehingga terhindar dari perkataan sia-sia apatah lagi dosa, membaca dan metadabburi Alquran sebagai penguat hati, membaca kisah nabi saw dan para sahabatnya yang penuh suri teladan, dan amalan salih lainnya. Dengan sendirinya, seseorang akan memaksimalkan waktu dan disiplin dalam penggunaannya serta menerapkannya pada aspek kehidupan lainnya di luar bulan Ramadan.

Dengan demikian, bulan Ramadhan menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kualitas diri, melakukan perbaikan-perbaikan prilaku, amal kebajikan menuju derajat yang paling tinggi yakni kelompok orang yang bertakwa, sebagaimana dijanjikan. Sehingga pantas mendapatkan ucapan "minal aidin wal faizin" kembali kepada kesucian dan keberuntungan.


Penulis;

Syafrudin Hanafi Siregar,

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSU / Alumni HMI FSH-FEBI UINSU

Penulis
: Syafrudin Hanafi Siregar
Editor
: Faeza
Tag:Opini

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.