Opini

Memaknai Konsep Merdeka Belajar yang Lebih Berhasil Guna

James Pardede
Matatelinga/Istimewa
  Praktik materi ajar di dalam laboratorium    

Konsep merdeka belajar yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, semoga dapat menjadi jawaban atas potret pendidikan Bangsa Indonesia.

Oleh : Yenny Laura, S.S.,M.M dan Maryanto Simbolon, S.S., M.M


Merdeka belajar bermakna memberikan kesempatan belajar secara bebas dan nyaman kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka punyai, tanpa memaksa mereka mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka.

Dengan demikian masing-masing mereka tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan kemampuannya. Memberi beban kepada anak di luar kemampuannya adalah tindakan yang tercela yang secara esensi berlawanan dengan semangat merdeka belajar. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh guru yang bijak. Ini tak ubahnya seperti siswa tuna netra lalu guru memintanya menceritakan keindahan pemandangan kepada teman-temannya.

Bila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta "pembelajaran yang merdeka" dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan (Herbert, 2019). Perasaan nyaman ini harus diciptakan oleh seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.

Berdasarkan data terkait performa pendidikan yang diterbitkan OECD periode survei 2009-2015, Indonesia konsisten berada di urutan 10 terbawah. Kemudian meningkatnya angka pengangguran yang seperti kejar mengejar dengan kriminalitas yang meningkat pula.

Beberapa tahun belakangan ini, layak menjadi bukti kasat mata bagi kita para pendidik, orang tua dan masyarakat bahwa kita harus bergegas untuk mengambil kembali ruh pendidikan kita agar tidak tidak berlama-lama berjalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang.

Gebrakan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam mewujudkan merdeka belajar diawali dengan ditiadakannya Ujian Nasional (UN) yang selama bertahun-tahun jadi momok menakutkan bagi peserta didik, pendidikan dan manjemen sekolah.

Dengan ditiadakannya UN menjadikan guru tidak lagi hanya fokus memikirkan bagaimana siswa-siswinya lulus dengan nilai yang bagus. Pengajaran yang dilakukan di dalam kelas lebih berfokus kepada mengerjakan soal-soal. Yang kecerdasannya lemah akan terkesampingkan, sementara yang memiliki kecerdasan lebih akan unggul dalam pencapaian nilai.

Demikian juga di sisi sekolah, kekhawatiran akan menanggung nilai yang tidak bagus sehingga lebih memfokuskan diri untuk menghasilkan anak-anak yang bernilai bagus dan mengesampingkan kebutuhan lainnya.


Memerdekakan

Kemudian berubahnya paradigma akreditasi sekolah di tahun 2020 yang lebih merujuk pada performance bukan compliance, manjemen sekolah yang dulunya selama berbulan-bulan disibukkan untuk melengkapi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan, saat ini fokusnya telah bergeser kepada bagaimana sehari-harinya sekolah mengelola sekolah secara menyeluruh.

Hal ini merupakan langkah maju dalam dunia pendidikan yang memungkinkan manajemen sekolah untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memenuhi lebih banyak kebutuhan; manajemen sekolah akan disibukkan kembali kepada fungsi pendidikan itu yaitu bagaimana agar siswa nyaman, memaksimalkan potensinya, berkarya dan menjadi manusia seperti yang dituliskan di Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Lalu komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dirampingkan menjadi 3 komponen saja tentunya telah ‘memerdekakan’ para pendidik untuk tidak terpaku pada kertas, berlama-lama di sana dan merasa tertekan akibat RPP yang jelimet.

RPP yang fokus kepada tujuan pembelajaran yang baik, bagaimana kegiatan pembelajaran dilaksanakan dan bagaimana evaluasi dilakukan tentunya akan sangat meringankan pekerjaan guru dan oleh karenanya diharapkan kreativitas lebih muncul dan terfasilitasi.

Ketika membicarakan RPP, di saat itu pulalah fokus kepada guru kembali diberikan porsi besar karena guru adalah inti dari pendidikan itu sendiri. Ibarat tubuh manusia maka para pendidik adalah jantungnya, gurulah yang berhubungan langsung dengan anak kita, saudara kita, anak teman-teman kita; generasi penerus bangsa.

Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagimana agar para pendidik dapat memaknai konsep merdeka belajar ini dengan benar, lalu diterapkan dalam desain mengajar masing-masing untuk kemudian dijalankan sesuai yang diharapkan? Karena para guru-lah yang sewajarnya merasakan semangat merdeka belajar ini di seluruh sel-sel tubuhnya ketika mendesain kegiatan mengajar dan lebih lagi tentunya ketika sedang mengajar.

Merdeka belajar tidak akan berhasil guna jika tidak disertai dengan penyajian pembelajaran yang bermakna, karena dalam kenyataannya banyak guru yang mengajar tapi tidak memastikan faedah mengajarnya apakah telah sampai kepada siswa-siswi yang dibimbingnya. Karena, sering kali siswa-siswi tidak menemukan hubungan antara yang dipelajarinya dengan yang dihadapinya/dilihatnya/ direncanakannya.

Menurut Ausubel (Burhanuddin, 1996 : 112) faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.

Pembelajaran bermakna terjadi apabila seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses belajar seseorang mengonstruksi apa yang telah ia pelajari dan mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.

Selayaknya praktek belajar bermakna ini dimulai dengan perencanaan di RPP. Memastikan bahwa para siswa memahami kegunaan belajar setiap topik dalam setiap pertemuan menjadi sangat krusial karena peserta didik akan termotivasi untuk belajar lebih lanjut karena hal yang disampaikan guru sangat dekat dengan kehidupannya sehari-hari.

Konsekuensinya adalah guru wajib memiliki kemampuan dalam menghubungakan topik pembelajaran dengan hal-hal yang dihadapi/akan dihadapi oleh siswa-siswi. Pemahaman dapat dihasilkan dari kecerdasan guru untuk menghubungan teori dengan praktek.

Peserta didik dalam kesempatan lainpun dapat didorong untuk menemukan kegunaan topik yang sedang dibahas untuk dirinya, hidupnya dan kehidupan. Pemberian contoh-contoh yang relevan dan baru juga menjadi langkah penting dalam memastikan belajar bermakna terjadi. Penjelasan teori yang panjang lebar tanpa disertai ilustrasi yang mendekatkan pemahaman siswa dengan topik bahasantidak akan memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa-siswi.

Pembelajaran moral pun menjadi langkah selanjutnya. Guru wajib mampu membuka pemahaman siswa-siswi akan efek dari suatu tindakan setelah diputuskan untuk dilakukan. Keunggulan dalam pengetahuan yang tidak diimbangi dengan kekayaan jiwa akan menjadi tidak bermakna pula.

*) Penulis adalah guru di PrimeOne School Medan

Penulis
: Yenni dan Maryanto
Editor
: James P Pardede
Tag:Belajar MerdekaMerdeka belajarYenny Laura

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.