Opini

Maraknya Pungli atau Raja Olah di Negeri ini, Sebagai Bukti Budaya Malu Kita Sudah Hilang?

Administrator
Matatelinga/Istimewa
Akhmad Khambali

Masih maraknya pungutan liar (pungli) atau bahasa Kedai Kopinya di Sumatera Utara disebut dengan RO alias Raja Olah membuat masyarakat dan pengusaha berpikir puluhan kali untuk melakukan sesuatu hal yang bersinggungan dengan RO tadi.

Oleh : KH. Akhmad Khambali, SE, MM
Pengamat Sosial & Publik


Pungli atau Raja Olah adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau oknum pegawai Negeri atau pejabat Negara dengan cara meminta sejumlah uang yang tidak sesuai atau tidak berdasarkan peraturan yang berlaku. Hal ini sering disamakan dengan perbuatan pemerasan, penipuan atau korupsi.

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi raja olah atau tukang pungli. Seperti penyalahgunaan wewenang, jabatan atau kewenangan seseorang dapat melakukan pelanggaran disiplin oleh oknumnya yang melakukan pungli atau Raja Olah.

Faktor mental, karakter atau kelakuan dari pada seseorang dalam bertindak dan mengontrol dirinya sendiri.

Faktor ekonomi, penghasilan yang bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan tugas/jabatan yang diemben membuat seseorang terdorong untuk melakukan pungli.

Faktor kultural dan Budaya organisasi, budaya yang terbentuk di suatu lembaga yang berjalan terus menerus terhadap pungli dan penyuapan dapat menyebabkan pungli sebagai hal biasa.

Terbatasnya Sumber Daya Manusia.

Lemahnya sistem kontrol dan pengawasan oleh atasan membuat tindakan ini tumbuh semakin subur. Dalam kasus tindak pidana pungutan liar tidak terdapat secara pasti dalam KUHP, namun demikian pungutan liar dapat disamakan dengan perbuatan pidana penipuan, pemerasan dan korupsi yang diatur dalam KUHP sebagai berikut:

Pasal 368 KUHP
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian ialah milik orang lain atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Penulis
: Mtc/Khambali
Editor
: James P Pardede
Tag:korupsiPreman berdasi bebasPunglikenapa Indonesia jamur Punglipungli di IndonesiaTerkini

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.