Opini

Pemuda dan Pemilu

Faeza
mtc/ist
Heru Gunawan
Oleh : Heru Gunawan


(Sekjen Badko HMI Sumut)


MATATELINGA : Pemilihan Umum 2019 sebentar lagi sebagai puncak pesta demokrasi 5 tahunan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 yang akan memilih para Anggota Dewan Legislatif DPR RI, DPD RI dan DPRD serta akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, namun hiruk pikuknya mulai terasa sangat gencar. Beberapa partai politik, baik yang baru didirikan maupun yang sudah lama ada akan bersaing untuk memperebutkan dukungan masyarakat, termasuk salah satunya pemuda.


Tak dapat dipungkiri, dukungan pemuda dalam setiap pemilu tak pernah surut. Tidak saja di Indonesia, disetiap Negara manapun partisipasi pemuda dalam pemilu selalu dominan. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah animo pemuda terhadap politik ini dikarenakan hati nuraninya atau ada hal lain, seperti ikut-ikutan saja?


Sejak era sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde Reformasi partisipasi pemuda dalam menyuarakan demokrasi itu tak diragukan lagi. Sumpah pemuda yang dikumandangkan 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998, menunjukkan bahwa peran pemuda dalam kebangkitan bangsa memang begitu dominan dan strategis. Seperti kata Soekarno, "berikan saya sepuluh orang pemuda, maka akan ku goncang dunia ini" dan Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, "Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya".


Menurut Ali Moertopo pada hakekatnya pemilu adalah sarana yang tersedia bagi rakyat untuk menjalankan kedaulatannya sesuai dengan azas yang bermaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Pemilu merupakan ajang pesta demokrasi rakyat, digelar setiap lima tahun sekali. Tentu saja banyak pemuda yang untuk pertama-kalinya memiliki hak pilih. Lantas, ke Parpol manakah sebagian besar pemuda menyalurkan aspirasinya. Nah, hal inilah yang perlu digarap secara cermat oleh setiap Parpol. Jumlah suara pemuda itu puluhan juta, tentu saja diperlukan perlakuan khusus untuk mendekati kalangan pemuda.


Pemuda memang identik dengan gairah, semangat, demokrasi dan keterbukaan. Pemuda tak menyukai segala sesuatu yang loyo dan muluk-muluk, pemuda memang amat menyukai realita. Dengan demikian, salah satu "jurus" untuk meraih dukungan pemuda dalam Pemilu 2019 ialah dengan menawarkan keterbukaan, program yang tidak muluk-muluk serta realistis.


Selayaknya diantara Parpol terjadi kerjasama dan kekompakan, terutama untuk menggelar pesta demokrasi yang bersih, termasuk menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi kalangan pemuda. Jangan sampai peran pemuda dalam pemilu hanya ikut-ikutan saja.


Peran Pemuda


Penulis meyakini bahwa sudah saatnya untuk kaum pemuda untuk berhenti menjadi pesimis, dan mulai berbuat sesuatu untuk Indonesia dan memberikan suaranya dalam Pemilihan Umum 2019 nantinya.


Generasi muda harus berhenti menyalahkan para pemimpin dan pejabat yang diisi oleh generasi senior atau tua, melalui wadah Pemilu 2019, maka pemuda harus mengisi diri dengan segenap kompetensi, memperkuat jaringan, memberikan jawaban atas permasalahan bangsa serta melihat akar-akar permasalahan bangsa. Pemuda harus mengembangkan beberapa karakteristik "pembaharu" antara lain : 


(a) Tidak gampang dihasut oleh isu yang menyinggung Suku, Agama, atau Ras; 


(b) Berpikir positif dalam mendukung kesejahteraan bangsa; 


(c) Mewujudkan pemilu yang jujur adil dan berintegritas. (mtc)

Penulis
: Heru Gunawan
Editor
: faeza

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.