Ekonomi

Rupiah Akhirnya Berhasil Menembus ke bawah Rp 14.000 per dolar

Administrator
Hand Over

MATATELINGA, Jakarta: Lihat saja, rupiah akhirnya berhasil menembus ke bawah Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah ditutup di level Rp 13.895 per dolar AS pada hari ini. Ini jadi level terbaik rupiah sejak 6 Juni 2020. Kala itu, rupiah berada di level Rp 13.890 per dolar AS.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, penguatan mata uang sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Mengingat hampir semua mata uang di Asia juga menguat terhadap dolar AS. Mengawali perdagangan tahun ini dengan mantap.

Menurutnya, penguatan ini sejalan dengan optimisme pelaku pasar yang semakin membaik setelah banyak negara yang menggelar vaksinasi virus corona sejak pertengahan bulan Desember 2020 lalu.

"Dari segi fundamental, pemulihan daya beli masyarakat Indonesia juga sudah mulai berjalan secara bertahap. PMI manufaktur Indonesia bahkan sudah di atas level 50 pada Desember kemarin. Ini mengindikasikan dunia industri kembali tergeliat seiring para pelaku industri sudah mulai membeli bahan baku," sebutnya pada Wartawan, Senin (4/1/2020).

Tak hanya itu, penguatan rupiah juga terjadi seiring dengan pelemahan dolar AS akibat gelontoran stimulus yang dilakukan oleh Negeri Paman Sam. Terlebih Federal Reserve juga berencana menjaga suku bunga acuan untuk tetap berada di level rendah.

Dus, Bhima menilai hal ini memicu aliran dana asing masuk ke emerging market, termasuk Indonesia.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai, penguatan rupiah kali ini justru overshoot karena aliran dana investor asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia cukup besar.

Padahal secara fundamental, David melihat rupiah idealnya berada di kisaran Rp 14.000 per dolar AS.

“Tapi ini juga jadi hal bagus, karena dalam kondisi rupiah menguat, pihak otoritas akan lebih mudah mengendalikan stabilitas nilai tukar. Rupiah itu yang terpenting bukan menguat atau melemah tajam, tetapi harus stabil dan punya daya saing dibanding mata uang emerging market lainnya,” tambah David.

Ke depan, Bhima meyakini, tren penguatan rupiah ini tidak hanya sesaat namun berpotensi berlanjut. Menurut dia, terdapat dua faktor yang akan mempengaruhi.

Pertama, tidak terjadi taper tantrum, yakni keluarnya aliran dana investor asing dari Indonesia secara besar-besaran, tentu rupiah bisa terpukul. Kedua, laju inflasi bisa terkendali. Jika sampai inflasi terus naik dan mengharuskan Bank Indonesia menaikkan suku bunga, tentu akan berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara David menyebut, keberlanjutan aliran dana investor asing yang masuk bisa menjadi pendukung penguatan rupiah. Selain itu, masuknya Foreign Direct Investment (FDI) seiring implementasi omnibus law juga menjadi faktor pendukung. Ditambah lagi, jika harga komoditas utama Indonesia bisa mengalami penguatan maka turut mendukung penguatan rupiah.

“Kalau yang jadi faktor penghambat, jika penyebaran Covid-19 masih belum bisa teratasi. Lalu jika sampai terjadi masalah pada sistem finansial global. Pada 2008 silam, setelah terjadi krisis ekonomi, berlanjut pada krisis Eropa. Tentu kita tidak berharap ada krisis lanjutan setelah pandemi ini nanti berakhir,” jelas dia.

Lebih lanjut, David memperkirakan pada akhir tahun nanti rupiah akan berada pada kisaran Rp 14.000 - Rp 14.500 per dolar AS. Sementara Bhima, memproyeksikan rupiah akan berada pada rentang Rp 13.800 - Rp 14.500 per dolar AS pada akhir 2021.

Penulis
: Mtc
Editor
: Amrizal
Sumber
: ktn
Tag:PemerintahperekonomianRp 14.000 per dolarTerkiniTravelokablibliIndexrupiah menembus

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.