Berita Sumut

Tiga Pembunuh Pria Stroke Hanya Dituntut 2, 5 Tahun Penjara 

Administrator
Mtc/Ist
MATATELINGA, Medan: Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negri (PN) Medan hanya menuntut 2, 5 (dua setengah tahun penjara) kepada tiga terdakwa pembunuhan terhadap Abadi Bangun (korban-red). Keluarga korban menilai, tuntutan itu tidak wajar dan seperti ada indikasi permainan.




"Sidangnya seminggu lalu bang, di Pengadilan Negeri Medan. Dalam sidang tuntutan yang dibacakan Jaksa, Jaksa menuntut ke-tiga pelaku pembunuhan terhadap suami saya hanya 2,5 tahun penjara. Apa ini tidak aneh, kasus pembunuhan dihukum sebegitu ringan. Ada apa,"kata istri korban Eva Boru Sihombing warga Jalan Bahagia, Gg Budi Utomo, Medan Baru kepada wartawan,Minggu (11/10/2020).



Padahal, lanjutnya, dalam pemeriksaan penyidik di Polrestabes Medan saat melengkapi berkas perkara (BAP), penyidik menjerat berbagai pasal kepada ke-tiga terdakwa, yaitu Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat 1 sub Pasal 170 ayat 2 ke 3 atau Pasal 351 ayat 3 Jo KUHPidana.


Begitu juga ketika hakim membacakan surat dakwaan terhadap para terdakwa, mereka dijerat dengan pasal yang sama karena telah menghilangkan nyawa seseorang.





"Makanya saya tanya sama orang yang paham hukum, apa itu sudah adil dituntut 2,5 tahun penjara. Inikan kasus pembunuhan. Katanya tidak. Disitulah saya tahu bahwa itu tidak benar, karena pasal-pasal itu telah berkekuatan hukum penuh dan dapat menjerat para pelaku dengan hukuman seumur hidup,"terangnya.


Setelah mendapat penjelasan itu, iapun baru menyadari jika apa yang telah diterbitkan media tentang pembunuhan suaminya belakangan ini, itu tidak benar dan terkesan seperti settingan. Apalagi, mereka menyebut jika suaminya dibunuh karena bawa parang meminta nasi goreng gratis.


"Saya pastikan itu tidak benar. Bagai mana suami saya mau mau melawan orang, dia jalan saja tidak bisa, karena stroke. Bagai mana dia bisa memegang parang, sedangkan dia stroke. Saya punya bukti vidio, kalau suami saya stroke.


Dan saya punya banyak saksi yang mampu membuktikan itu di persidangan,"ungkapnya seraya mengatakan kejadiaan pembunuhan itu terjadi Mie Aceh Pasbar (milik pelaku) di Jalan Pasar Baru No 14, Titi Rantai, Medan Baru, Rabu, 29 Januari 2020, lalu.


Namun apa daya, disebutkannya, ia tidak punya cukup banyak uang untuk menyewa pengacara untuk mengawal kasus kematian suaminya.


"Saya ini orang susah. Suami saya tidak ada meninggalkan warisan, saya tidak bekerja. Bagai mana saya bisa menyewa pengacara, sedangkan untuk makan saja saya tidak mampu,"lirihnya.





Untuk itu, ia berharap agar Kepala Pengadilan Negri (PN) Medan dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara (Kejatisu) melihat ketidak adilan ini. Pasalnya, tuntutan itu terkesan tidak wajar dan tidak berkeadilan.



"Lihatlah kami ini, kami ini hanya menuntut keadilan. Hanya hakim dan jaksa yang kami punya saat ini, harapan kami. Tapi kenapa malah mereka yang justru mengecewakan kami. Apa orang miskin kayak kami tidak layak mendapat keadilan,"tandasnya dengan berurai air mata.



Diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan yang dilakukan Mahyudi bersama dua karyawannya, Mursalin (32) dan Agus Salim (32), terdakwa kasus pengeroyokan hingga menewaskan seorang warga di depan Cafe Mie Aceh Delicious Cafe Jalan Pasar Baru Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru pada Januari 2020 lalu, kini sudah bergulir di pengadilan.


Dalam surat tuntutsn yang dibacakan JPU di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, seminggu lalu. Para terdawak dintuntut hanya 2,5 tahun penjara. Ada apa?

Penulis
: Mtc/rel
Editor
: Amrizal
Tag:3 pembunuh voniis 25 tahunPN Medan hkum lebih ringanenaknya jadi pembunuhmatinya lonceng keadilanpembunuh dihukum ringan

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.