Berita Sumut

Pengungsi Sinabung Menungu Buah Hatinya lahir

Administrator
Matatelinga - Karo, "Sekarang yang saya inginkan
adalah melahirkan dengan normal. Untungnya di sini ada dokter yang
sering mengecek perkembangan kehamilan saya. Susu terjamin di sini.
Tinggal menunggu waktunya saja untuk lahir,"

Mastarina Br
Ginting (24) tak seperti ibu lainnya, dia melalui hari-hari kehamilan di
tengah-tengah pengungsian Masjid Agung, Kecamatan Kabanjahe.
Kabupaten  Tanah Karo, Sumatera Utara.


Terkenang olehnya sebuah
keseharian normal sebelum Gunung Sinabung mengamuk. Saat itu yang ia
bayangkan adalah melahirkan anak ketiga, membesarkan mereka dalam
lingkungan perkebunan nan subur.

Tikar berukuran 2x3 meter persegi menjadi alas tidur dia, Suparjo Sitepu
(32) sang suami, M. Imanda (4), dan Siti Aisyah Sitepu (2). Sangat
terbatas bagi seorang ibu hamil.
Jumat
(24/1/2014) tak jauh beda dengan Jumat pekan lalu, bahkan bulan lalu.

Pengakuan Mastarina pada wartawan  "Di sini saya tak kuat meminum
air minumnya. Tak biasa awak minum air minum kemasan. Awak biasa minum
air matang, maksudnya air yang direbus. Kalau air minum kemasan, perut
awak sakit," tutur Mastarina.

Tapi apa daya, di pengungsian yang
tersedia adalah air minum kemasan. Lagipula, air minum kemasan mudah
disuplai dan kualitasnya terjamin.

"Tapi awak biasa mengambil air
di tempat wudlu. Kalau kompornya tidak dipakai, awak numpang merebus.
Lalu dimasukan termos," kata dia.




(Adm/Dtc)

Tag:NatalBanjirjambretkorupsiMedanpenyiksaan

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.