Berita Sumut

Pasien BPJS Dipungut Biaya Kepala BPJS Binjai

Administrator
Matatelinga - Binjai, Pemungutan uang terhadap pasien yang sudah tercatat sebagai peserta BPJS. Ternyata tidak dibenarkan sama sekali. Hal ini diakui oleh kepala operasional BPJS Kota Binjai, Ratna Dewi Ningsih Skm, saat ditemui diruanganya, Selasa (29/04/2014). 

Menyikapi pungutan yang mencapai 1,3 juta menimpa keluarga Sudarwin (35) warga Jalan Jambu, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat, saat membawa istrinya Ani, melakukan persalinan anak ketiga di rumah sakit Bangkatan. Diakuinya, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan. 

"Iya, saya sudah dengar dan sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak termaksud dokter Sugiarto, yang menangani prose persalinan, juga dengan si pasien," kata wanita berjilbab ini. 

Dimana dijelaskanya, setelah berkoordinasi dengan beberapa pihak. Kalau permasalahan ini sudah diluruskan. Bahkan, pihak rumah sakit Bangkatan, bersedia mengembalikan uang milik pasien untuk menjaga nama baiknya. Tapi, si pasien menolak uang dikembalikan. 

"Sudah kita luruskan permasalahanya pak. Pihak rumah sakit tempat dirawat pasien juga bersedia mengembalikan uang pasien. Tapi mereka tak mau menerimanya," jelasnya.  

Selain ingin melakukan proses persalinan, papar dia, si pasien ternyata memiliki penyakit kista. Sehingga harus dipasang alat untuk menjaga agar tidak terjadi pendarahan pada rahim saat melakukan persalinan. Dan saat mau dilakukan proses persalinan. Dr Sugianto, sebagai dokter juga telah menyarankan untuk dirawat di rumah sakit Adam Malik Medan, agar semua biaya ditanggu dari BPJS. 

Tapi, mereka (pasien-red) minta agar istrinya dirawat di rumah sakit Kota Binjai saja yang tak jauh dari kediamanya. "Jadi yang dimaksud menyewa alat adalah pemasangan sugikarsel, didalam rahim untuk menghindari pendarahan. Dimana alat ini dipasang pada tiga titik rahimnya untuk mencegah pendarahan. Sehingga, dipergunakan jasa dr Sugianto, yang tercatat sebagai dokter spesialis kandungan," jelasnya. 

"Kalau di Kota Binjai sendiri, ada lima rumah sakit yang menerima atau bekerjasama dengan pemerintah menerima pasien BPJS. Diantaranya rumah sakit dr Djoelham, Bangkatan, Kesrem, Latersia dan rumah sakit Bidadari. Rumah sakit ini dulunya rumah sakit yang menerima pasien jamkesmas, jamsostek, pensiunan tentara, PNS dan Polri. Kita juga tengah merangkul rumah sakit lain untuk melayani pasien kurang mampu," tegas dia, ketika ditanya klarifikasi rumah sakit seperti apa yang layak atau ditunjuk oleh pemerintah. Apakah, selama ini rumah sakit ini peralatanya lengkap guna melayani pasien.

Dimana, ditegaskanya lagi, pasien yang tercatan sebagai pasien BPJS secara otomatis adalah orang yang dulunya tercatat sebagai pensiunan PNS, Polri TNI. Atau orang yang dulunya tercatat sebagai pemegang kartu jamkesmas, jamsostek dan askes. Ada juga peserta yang metercatat sebagai pasien mandiri dengan mendaftarkan diri sendiri ke pihaknya. Dengan membayar uang iyuran sebesar 25.500 untuk kelas 3 dan 42.500 untuk kelas 2 serta untuk kelas I dengan iyuran 59.500 ribu perjiwa perbulan. 

Dalam kasus persalinan Ani istri Sudarwin, pemegang kartu BPJS NIK.1275035202780010. Selain harus membayar uang sebesar 1,2 juta dengan alasan untuk menyewa alat. Dirinya juga dikenakan uang admitrasi di RSU dr Djoelham sebesar 100 saat akan dipindahkan ke rumah sakit Bangkatan. 

Selain itu, perawat juga menyarankan untuk melakukan USG baru dengan alasan USG lama tidak bisa dilihat. Diduga perawat sengaja menunjuk ke rumah sakit Silfani milik dr Sugiarto, yang beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kebun Lada, Kecamatan Binjai Utara.

(Hendra/Mt-01)

Tag:BPJS

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.