Berita Sumut

Diancam Pakai Pistol, Petani Jagung Diusir Paksa Dari Rumah

Administrator
Matatelinga - Medan, Dengan membawa keempat anaknya, Asiholan Tampubolon (31) bersama istrinya Yusnenita Boru Nababan (29) warga Kampung Agas, Desa Sampali, Percut Seituan mendatangi Polresta Medan, Rabu (12/2/2014) sore. 

Kedatangan Asiholan ini bertujuan untuk melaporkan perbuatan pengancaman dan pengerusakan yang dilakukan sekelompok preman di kawasan Percut Seituan.

"Saya mau melapor. Tadi malam sekitar jam dua belas, puluhan orang mendatangi rumah saya, mengancam akan membunuh saya," ujar Asiholan di depan ruang SPKT Polresta Medan. 

Ia menjelaskan, pengancaman ini bermula saat sekelompok preman mendatangi dirinya meminta agar ia dan isteri serta anaknya pergi meninggalkan rumahnya tersebut.

"Saya tinggal digubuk. Saya menyewa tanah setahun Rp5,5 juta. Saya bayar sama yang punya tanah Boru Simatupang," terangnya. 

Menurut Asiholan, sekelompok preman tersebut hendak merebut lahan yang ditinggalinya selama lebih kurang 10 tahun. 

"Saya diusir, kepala saya ditodong pistol bang. Saya kenal dengan dua orang, namanya Nanok dan Boy," ujarnya sambil memangku anak-anaknya.

Asiholan juga menjelaskan, sekelompok preman tersebut juga sempat mengobrak-abrik seisi rumahnya. Bahkan HP dan sepatunya dirampas kelompok preman tersebut. "Mereka bilang sama saya, kalau saya tidak meninggalkan lahan itu, saya akan dibunuh. Mau tinggal dimana lagi kami," ujarnya lagi.

Pasca pengusiran dan pengancaman tersebut, Asiholan menitipkan barang-barangnya pada tetangga. Ia mengaku tidak berani kembali ke rumah lantaran sekolompok preman kerap membawa parang, panah dan pistol. 

"Satu malam saya dan anak-anak saya tidak tidur bang. Kami pun tidur di teras-teras rumah tetangga," ujarnya.

Karena takut dibunuh sekelompok preman, ia pun berencana tidur diatas becak barang yang dibawanya. "Kami udah enggak punya apa-apa bang. Saya kerja cuma nanam jagung. Tidur malam inipun kami enggak tau. Numpang di rumah tetangga kami malu," katanya. 

Sambil merangkul anaknya yang nomor dua, Asiholan kemudian masuk ke ruang SPKT Polresta Medan. Namun, pihak Polresta menyarankan agar korban membawa bukti-bukti penyerangan untuk melengkapi berkas laporan.

"Lengkapi dulu bukti-buktinya, baru kita bisa proses," ujar salah seorang petugas SPKT Polresta Medan yang namanya tidak mau disebutkan. (Don)

Tag:

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.