MATATELINGA, Belawan: Kapal ikan pancing cumi- cumi yang megunakan lampu phiser puluhan ribu watt dinilai nelayan skala kecil sebagai perusak habitat laut terbesar di pantai Timur dan Barat. Kehancuran habitat laut diperparah pukat cumi cumi yang menggunakan lampu Phiser untuk memanggil cumi cumi kepermukaan laut.
Pemerintah RI melalui Permen KP 71 Tahun 2016 telah mengatur kapal pancing cumi cumi yang menggunakan lampu Phiser telah diatur besarnya daya listrik dengan mesin genset sebesar 8000 watt tapi kenyataan kapal kapal pemancing cumi cumi yang ada di Gabion Belawan menggunakan lampu sebesar 1600 untuk zona ll dan 16000 watt untuk zona lll.
"Akibat mereka menggunakan lampu Phiser yang besar maka nelayan pancing cumi cumi yang menggunakan peralatan rendah maka mereka tidak memperoleh hasil seperti apa yang diharapkan selama ini. Untuk itu kami nelayan sekala kecil mengharapkan kepada Pemerintah RI untuk segera menghentikan kapal kapal pancing cumi cumi yang menggunakan lampu besar yabg tidak sesuai aturan dari Pemerintah,"ucap salah seorang nelayan pancing cumi cumi tradisionil, Simon Barus (50) asal Young Panah Hijau Kecamatan Medan Marelan.
Dalam hal ini dia meminta agar PSDKP Belawan harus bertindak tegas, jangan hanya menghentikan beroprasinya kapal pukat trawl dan sejenisnya saja tapi kapal pancing cumi cumi juga harus dihentikan beroprasi.
"Di tengah laut bila kapal kapal Phiser tersebut beroperasi, bila malam hari di tengah laut menjadi terang benderang ibarat siang hari dan akibatnya kami nelayan kecil pemancing cumi cumi menjadi terganggu karena cumi cumi dan ikan kecil hingga yang besar mendatangi kapal Phiser yang lampunya terang benderang,"bebernya.
Sementara itu pengamatan wartawan ini di Pelabuhan Perikanan Samudra Gabion Belawan, kapal kapal pancing cumi cumi yang menggunakan lampu lampu besar tersebut sangat banyak dan hampir setiap gudang memilik kapal pancing cumi cumi sebanyak 10 unit malahan lebih dan diperkirakan mencapai seratus unit lebih. (mtc/rompas)