Berita Sumut

3 Pembunuh Dituntut 2, 5 Tahun Bui, Keluarga Korban Beberkan Kejanggalan

Administrator
Mtc/ist
MATATELINGA, Medan:Keluarga korban pembunuhan, Abadi Bangun, mengaku tidak pernah mendapat informasi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari awal sidang bergulir di Pengadilan Negri (PN) Medan hingga saat ini.






Informasi soal sidang kasus pembunuhan Abadi Bangun diketahui pihak keluarga melalui juru periksa (juper) Polrestabes Medan karena JPU membutuhkan katerangan saksi.


"Kalau dari awal kami dikasih tahu proses persidangan, kami pasti sudah melawan sejak awal. Ini tidak, sepucuk surat pun tidak ada kami terima dari pihak JPU. Tiba-tiba sudah berlangsung saja sidang. Kami dapat informasi soal sidang itu karena menghubungi juper Polrestabes Medn terus-menerus, kalau dari JPU tidak ada sama sekali.


Dari situlah baru kami mulai mengikuti sidang, mencari informasi sendiri, berjalan sendiri,"kata istri korban, Eva Boru Sihombing saat ditemui di kediamannya di Jalan Bahagia, Gg Budi Utomo, Medan Baru,Selasa (13/10/2020).


Nah, anehnya, lanjut dia, di sidang peledoy (pembelaan) yang perdana dihadiri pihak keluarga korban, Selasa 13 Oktober 2020 kemarin. JPU tidak ada mencecar ke-tiga terdawka seperti layaknya pembunuh di dalam sebuah persidangan online yang digelar Pengadilan Negri Medan.


[adaense]


Ia malah melihat, ke-tiga tersangka (yang tidak dihadirkan dalam sidang) seperti seorang 'dewa' yang harus dilindungi saat berjalannya proses sidang pledoy tersebut. Kemudian yang paling mengejutkan, tiba-tiba usulan vonis bebas pun dilontarkan kuasa hukum ke-tiga terdakwa kepada majelis hakim.


"Ujung-ujungnya kuasa hukum minta ketiga tersangka dibebaskan. Berarti dari situ kita sudah mengetahui bagai mana proses persidangan itu berjalan. Kami pihak keluarga tidak mau menduga-duga dalam hal ini.


Tapi ini jelas sangat janggal, sangat penuh dengan tanda tanya. Hukum di Pengadilan Negri Medan ini memang benar-benar tidak adil untuk orang miskin,"sebutnya.


Iapun menegaskan, jika di dalam persidangan yang ia hadiri, pihak JPU maupun majelis hakim tidak ada menyinggung soal camera CCTV dan sakit suaminya yang sedang stroke. Sehingga wajar, dia bang, hal tersebut semakin menguatkan kecurigaan pihak keluarga bahwa sidang tersebut telah dicurangi.


"Jika itu benar, semoga Tuhan membalas mereka. Dan kami, selaku keluarga korban akan terus berusaha untuk melawan ketidak adilan ini,"tandasnya dengan uraian air mata.






Terpisah, Jaksa Agung Muda dan Pengawasan (Jamwas) Amir Yanto ketika dikonfirmasi wartawan soal kasus tersebut mengaku bahwa Jamwas tidak memiliki wewenang untuk menangani soal tuntutan. Sebab, kata dia, itu adalah bidang teknis, dilakukan eksaminasi oleh pidum.


"Kalau ada perbuatan disiplin atau perbuatan tercela baru ditangani oleh Jamwas,"pungkasnya.


Sebelumnya, Praktisi Hukum Sumatra Utara, Muslim Muis menilai jika tuntutan 2, 5 tahun yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negri (PN) Medan kepada 3 terdakwa pembunuhan terhadap Abadi Bangun (korban-red) adalah sebuah kekeliruan.


Ia menilai, tuntutan itu adalah bentuk kezoliman kepada korban dan keluarga korban. Ada tiga terdawa dalam kasus pembunuhan ini uang dituntut rendah, Mahyudi bersama dua karyawannya, Mursalin (32) dan Agus Salim (32). Para pelaku mengeksekusi korban di depan Mie Aceh Delicious Cafe (milik pelaku) di Jalan Pasar Baru Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru pada Januari 2020 lalu.

Penulis
: Rillis
Editor
: Amrizal
Sumber
: Rel
Tag:Terkinikasua pembunuhan 3 pelaku divonis ringanPN Medan

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.