âś•
Berita Sumut

1 Mayat Ditemukan, Bocah Traumatik Ngigau “Jangan Bacok Bapak Kami”

Administrator
Matatelinga - Medan, Segerombolan preman bersenjata api dan klewang, membakar dan merusak empat rumah, sekaligus ‘menggembala’ para penghuninya untuk pengusiran paksa, di Kampung Agas Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Rabu dinihari (12/2/2014).


Salah seorang korban, Hasiolan Tampubolon kepada wartawan mengungkapkan, aksi biadap preman bersenjata itu terjadi  sekitar pukul 00.16 WIB, ketika ia bersama istrinya Yusnenita Br Nababan dan keempat anaknya yang masih bocah tengah tertidur lelap.


Disaat bersamaan, tiba – tiba muncul satu mobil Isuzu Fanther warna biru berpenumpang belasan pria bertampang kasar yang tiga diantaranya diketahui bernama Boy, Nano dan Roni. Dengan menghunus klewang dan mengacung acungkan senjata apinya,gerombolan itu langsung mendobrak rumah korban dan menodongkan senpi  sampai lengket ke kepala Hasiolan serta menyandarkan klewang ke leher istri korban.


“ Cabut kalian dari sini atau kupenggal leher istrimu dan kuledakkan kepalamu,” teriak pelaku sambil memaksa pasangan suami istri itu merangkak digiring ke luar rumah dan memperlakukan keduanya sebagai hewan gembalaannya.


Mendengar kegaduhan, keempat anak korban sontak melompat, menjerit dan menangis menyaksikan kekejian para pelaku, bahkan mereka dibentak untuk diam sambil mengayun ayunkan kelewang di atas kepalanya. “ Bang Jangan Bacok Bapak Kami,” ujar anak anak korban yang menggigil ketakutan.


Puas mengobark abrik peralatan rumah tangga dan menyikat hand phone milik korban yang tergolong  warga pra sejahtera itu,para pelaku kembali melempari dan merusak rumah yang sudah 10 tahun ditempati dan disewa korban dari Toni Siahaan selaku pemiliknya, termasuk merusak sebuah rumah lainnya yang bersebelahan dengan rumah Hasiolan“ Kalau kalian berani datang lagi ke tempat ini, kuhabisi kalian semua sampai mati, “ bentak Nano.


Atas kesadisan perbuatan para pelaku, anak beranak itu hanya mampu menangis berpelukan di semak semak di tengah kegelapan malam,semantara Br Nababan sambil mengendong bayinya,berusaha membangkitkan semangat anaknya yang yang lain, yang tampak mengalami trauma mendalam karena terus senggugukan dan mengigau berulang ulang menyebutkan “jangan bacok bapak kami bang”.


 Khawatir akan keselamatan jiwa keluarganya, Hasiolan yang kini menjadikan becak bermotor bak terbuka sebagai tempat tinggalnya, Rabu siang mendatangi Mapolresta Medan untuk mencari perlindungan hukum dengan membuat laporan pengaduan. Namun, laporannya di tolak oleh petugas bernama Eva dan menyuruh korban membuat pengaduan ke polsek yang berwilayah hukum tempat kejadian. “ Kasus ini barusan sudah saya laporkan,tapi sepertinya dibiarkan,” ujar Hasiolan


Sementara itu, di tempat terpisah, masyarakat Sampali Rabu (12/2) sekitar pukul 16.00 Wib, dikejutkan dengan ditemukannya sesosok mayat pria bernama Ngatiran yang tergeletak bermandikan darah mengering dengan luka tikaman di bahagian perutnya. “ Mayat korban pembunuhan itu, ditemukan masyarakat di lokasi dekat rumah Hasiolan yang pagi dinihari tadi di rusak kelompok preman dimaksud,” ungkap warga setempat.


Grombolan preman itu, beberapa minggu sebelumnya juga melakukan aksi teror dan kekacauan serupa, dengan rasa kebal hukumnya kelompok preman itu membakar hangus dua rumah semi permanen milik Ipong dan pasangan Adi dan Br Aritonang, hingga korban menderita kerugian ratusan juta rupiah. Tak jauh beda dialami Hasiolan, Adi dan Ipong juga tak mendapat tanggapan ketika kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Percut Sei Tuan 


(Ad/Adm)

Tag:NatalBanjirjambretkorupsiMedanpenyiksaan

Situs ini menggunakan cookies. Untuk meningkatkan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini mohon Anda setujui penggunaan cookies pada situs ini.